Pernah dengar tentang Wakatobi?
Saya pribadi sudah lama mendengar tentang keindahan bawah laut Taman Nasional Wakatobi dan akhirnya di bulan Mei 2026, lima bulan setelah saya mendapat lisensi diving, saya berkesempatan untuk mengunjungi Wakatobi bersama dengan teman sesama female diver.
Wall cantik di bawah laut Pulau Tomia
Terletak di Sulawesi Tenggara, Wakatobi sendiri adalah singkatan dari kumpulan pulau yakni; Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko.
Untuk menuju Wakatobi, saya sangat clueless, kemudian menghubungi beberapa travel agent lokal (@wakatobidivetrip dan @pesonawakatobi.id) dan mendapat banyak informasi bermanfaat.
Ternyata sejak Maret 2026 terdapat penerbangan langsung ke Wangi-Wangi dari Kendari setiap hari Selasa dan Jumat dengan maskapai FlyJaya, setelah sebelumnya memang terdapat penerbangan dengan maskapai lain namun rutenya ditutup. (Update Juli 2026: ada direct flight dari Bali-Wakatobi)
Kami memilih untuk berangkat menuju Wakatobi melalui jalur udara agar mempersingkat waktu perjalanan pada Selasa 26 Mei 2026 (1 hari sebelum Idul Adha) dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Haluoleo Kendari dengan maskapai Batik Air pukul 03.20 dan tiba pukul 07.15. Perjalanan lancar tanpa kendala sehingga kami dapat menaiki penerbangan menuju Wangi-Wangi dengan FlyJaya pukul 09.15. Lima puluh menit kemudian, kami tiba di Bandara Matahora di Pulau Wangi-Wangi 😊
Tujuan utama kami adalah Pulau Tomia karena berdasarkan info yang kami dapatkan, surga bawah laut Wakatobi terutama di Pulau Tomia sehingga kami harus melanjutkan perjalanan via laut dari Wangi-Wangi menuju Tomia. Sebuah keputusan tepat untuk tiba H-1 Idul Adha karena ternyata kapal cepat menuju Tomia tidak beroperasi saat Idul Adha sehingga speedboat yang berangkat pada pukul 14.00 itu adalah boat terakhir sebelum off.
Tepat pukul 14.00, kapal berangkat. Kapal Bintang Samudra yang kami naiki bukanlah sebuah speedboat besar, langit-langit kapalnya cukup rendah sehingga saya harus menunduk ketika berjalan di dalam kapal, kursinya merupakan kayu memanjang yang muat untuk 2-3 penumpang, namun dikarenakan kaki saya yang cukup panjang, posisi duduk saya harus agak menyerong. Sebelum berhenti di Pulau Tomia, kapal berhenti cukup lama untuk menurunkan penumpang di Pulau Kaledupa, pemberhentiannya cukup unik karena tidak dilakukan di dermaga melainkan penumpang diturunkan di tengah laut dan dijemput oleh sampan-sampan kecil.
Sampan yang menjemput penumpang turun di Pulau Kaledupa
Setelah selesai menurunkan penumpang di Pulau Kaledupa kami melanjutkan perjalanan dan.... Kembali menurunkan penumpang (masih) di Pulau Kaledupa 🤭, ternyata ada 2 sesi penurunan penumpang. Setelah itu baru akhirnya kapal berjalan menuju Pulau Tomia. Menjelang kedatangan kami ke Pulau Tomia, seorang kondektur menagih biaya perjalanan sebesar Rp150.000/orang.
Perjalanan yang umumnya ditempuh selama 2-2.5 jam, saat itu kami tempuh sekitar 3 jam 15 menit dikarenakan banyaknya penumpang yang turun di Pulau Kaledupa pada hari itu. Sesampainya di pelabuhan, selain disambut oleh Pak La Ode dan Widhi dari Laprasmi Hotel, kami juga disambut oleh sunset yang cantik.
Sunset cantik di dermaga Pulau Tomia
Menaiki motor, kami diantar menuju tempat menginap kami untuk 5 hari ke depan yaitu Laprasmi Hotel. Penginapan ini selalu direkomendasikan dalam pencarian tempat menginap kami di Pulau Tomia. Keputusan kami sangat tepat karena dengan rate Rp350.000/malam, Laprasmi Hotel memiliki fasilitas yang sangat memadai termasuk tersedianya air panas, dapur dan motor yang bisa dipinjam untuk keliling pulau. Malam itu, kami menikmati tidur indah setelah perjalanan panjang.
Keesokan paginya, kami berjalan kaki ke lapangan yang terletak di Pantai Lakota untuk melaksanakan sholat ied. Cuaca sangat cerah pada pagi itu dan kami tidak sabar untuk segera menikmati pemandangan bawah laut Tomia.
Suasana sholat ied di Pulau Tomia
Tepat pukul 12.00, Hilman, Dive Master dari @tomiafundive menjemput kami untuk menuju pelabuhan tempat boat diving kami bersandar. Sesampainya di boat, sudah menunggu para crew dan juga 2 tamu lain asal USA dan Malawi yang telah tiba di Tomia sebelum kami.
Penyelaman pertama kami adalah di dive spot terkenal di Tomia yakni Roma, sebagai pemula dalam dunia penyelaman dan baru memiliki 9 divelog sebelumnya, saya cukup kesulitan dalam mengatur buoyancy, namun Hida, dive instructor dari @tomiafundive, sangat membantu saya.
Diving site Roma cantik dengan lettuce coral yang lebar-lebar. Kemudian di divesite ke dua, kami diajak ke site FAN38 yang merupakan site wall diving favorit saya di Tomia dikarenakan coralnya sangat cantik, hidup dan berwarna-warni di sepanjang tebing. Pertama kalinya saya melihat pigmy seahorse yang sangat kecil juga di divesite ini.
Kami kembali ke penginapan setelah melakukan dua penyelaman, Pak La Ode dan istrinya memberikan kami makan malam dikarenakan tidak adanya warung makan yang buka di kala Idul Adha. Sungguh uang tidak ada artinya jika tidak ada warung makan buka 😂
Hari-hari selanjutnya kami habiskan dengan rutinitas serupa: Diving dimulai dari jam 08.00 dan diakhiri sekitar pukul 15.00 setelah 3x penyelaman. Setelah membersihkan diri dan menjemur pakaian, kami akan berkeliling pulau mencari makanan (yang sulit dicari karena musim libur Idul Adha).
Salah satu restoran dengan view sangat indah yang kami temukan tidak jauh dari penginapan kami adalah Kedai Selly Water. Makanannya cukup enak namun jalan menuju restoran tersebut gelap sehingga ngeri-ngeri sedap. Pada malam terakhir sebelum pulang, kami juga menemukan Kedai Cantika'S yang terletak dekat dengan Pantai Hondue, salah satu pantai indah di Tomia.
Pemandangan dari Kedai Selly Water
Total penyelaman saya di bawah laut Pulau Tomia adalah 11x dan tidak ada satupun spot diving yang tidak indah! Hamparan soft dan hard coral cantik membentang, visibilitas sangat baik, arus yang hampir tidak ada, membuat Tomia menjadi destinasi yang sangat tepat untuk saya yang masih beginner diver. Selain coral cantik, kami juga menemukan schooling barracuda di spot favorit saya nomer dua yakni Teluk Indah yang terletak tidak jauh dari resort mewah dan terkenal tempat para turis mancanegara menginap yakni Wakatobi Dive Resort.
Schooling Barracuda
Saya pribadi berharap keindahan bawah laut Pulau Tomia tetap terjaga dan tidak terjadi overtourism seperti di berbagai dive spot lainnya, namun, di lain sisi, saya ingin banyak orang datang untuk menikmati keindahan Tomia dan bukan hanya segilintir golongan yang dapat menikmati Tomia.
Selain menyuguhkan keindahan alam bawah laut, Pulau Tomia juga memiliki berbagai destinasi wisata menarik lainnya seperti Puncak Tomia. Kami diantarkan oleh Widhi, guide dari Laprasmi Hotel, untuk menuju ke Puncak Tomia, yaitu dataran tinggi dimana kita bisa menikmati panorama Pulau Tomia untuk menikmati sunset yang indah dan duduk di kafa menikmati secangkir kopi kahianga khas Tomia dan pisang goreng hangat.
Puncak Tomia
Setelah menghabiskan 6 hari di Tomia, kami harus mengakhiri perjalanan kami dan kembali ke Jakarta. Dikarenakan tidak adanya penerbangan langsung menuju Kendari pada hari Minggu, kami menggunakan jalur laut untuk menuju Kendari.
Dimulai dari menaiki kapal Fungka Express dari Pelabuhan Ferry Tomia untuk menuju ke Wangi-Wangi pada pukul 09.00, kapal Fungka Express cukup besar dengan kursi nyaman, empuk dan ergonomis, legroom lega, serta AC yang dingin dengan harga Rp150.000 untuk sekali jalan. Sungguh berbeda dengan perjalanan saat kami berangkat, kali ini hanya membutuhkan waktu 2 jam untuk kami tiba di Pulau Wangi-Wangi.
Setibanya di Wangi-Wangi, kami sudah dijemput oleh driver yang disediakan oleh @wonderscubawakatobi.id untuk mengantarkan kami half-day trip sembari menunggu kapal ferry kami menuju Kendari yang dijadwalkan berangkat pada malam hari.
Terdapat banyak objek wisata di Pulau Wangi-Wangi, namun karena terbatasnya waktu, kami hanya sempat mengunjungi beberapa saja di antaranya Goa Air Kontamale dan Puncak Toliamba yang menyuguhkan pemandangan sangat indah. Kami diantarkan juga ke toko souvenir Wakatobi @wakatobisouvenir yang menyediakan kaos-kaos dengan gambar lucu dan berbagai souvenir lainnya.
Kemudian kami menghabiskan sore hari di Pantai Sombu Dive yang merupakan salah satu spot diving terbaik di Pulau Wangi-Wangi dan juga rumah bagi 2 Dive Centre lokal Wangi-Wangi. Setelah puas menikmati sunset, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah kafe yang terletak dekat dengan Pelabuhan Ferry Wangi-Wangi.
Kami menuju Kendari dengan menaiki kapal Simba 1 dengan harga tiket Rp155.000, ditambah dengan harga kamar Rp300.000. Pembelian tiket kapal dapat dilakukan melalui aplikasi Ferinesia ataupun di loket langsung. Kami membeli tiket langsung di loket dengan sebelumnya (sekitar H-2 minggu) telah memesan kamar melalui WhatsApp ke nomer CS Aksar Saputra Lines sebagai penyedia KM Simba 1.
Kamar 304 adalah kamar yang kami dapatkan, terletak di deck atas kapal dan dekat dengan toilet. Terdapat fasilitas colokan listrik, AC dan juga 2 kasur bertingkat. Cukup nyaman untuk menghabiskan malam hari namun sayangnya seiring perjalanan, kecoak-kecoak kecil semakin menampakkan diri sehingga kami cukup merinding dibuatnya.
Saya tertidur nyenyak dan hanya terbangun beberapa kali untuk ke toilet hingga akhirnya hampir 10 jam kemudian pada jam 05.00 saya terbangun oleh suara buruh-buruh angkut yang menawarkan jasa porter barang, saya kaget karena tidak menyangka bahwa perjalanan cukup cepat dan langsung membuka Google Maps dari handphone, ternyata sudah ada sinyal setelah sebelumnya tidak ada, dan menunjukkan lokasi bahwa kami memang telah tiba di Kendari.
Dijemput oleh driver, kami diantarkan untuk mencari sarapan dan oleh-oleh. Willy, driver kami, juga mengantarkan kami ke sebuah masjid megah terapung yang merupakan ikon Kendari yakni Masjid Al-Alam. Suasana pagi hari di sekitar masjid sungguh syahdu.
Setelah memborong kacang mete khas Kendari, kami diantarkan menuju airport dan mengakhirkan perjalanan kami.
Jika ada kesempatan, tentu saya akan kembali mengunjungi Wakatobi ❤️
Komentar
Posting Komentar