Minggu, 11 Juli 2010

Review : Eclipse

Udah dari minggu lalu gue pengeeeen banget nonton (sambil menghinadina) kelajutan dari film Munyun yang merupakan sekuel ketiga dari Twilight Saga. Oke, gue mau ngejelasin sedikit seputar Twilight Saga ini, jadi ini merupakan cerita tentang si Bella Soang Swan yang jatuh cinta pada seekor/seorang vampire yang di bukunya ganteng dan filmnya menurut gue mukanya terlalu kotak mirip sponge bob, Edward Cullen (diperankan Robert Pattinson), namun cinta mereka ini banyak halangannya, diantaranya karena Bella suka juga sama Jacob, seekor/seorang serigala jadi-jadian.


Ehm.. Mari gue mulai reviewnya.

Jreng-jreng

Adegan awal (kedua dari awal sebenarnya, halah) di film ini sudah menunjukan akan seperti apa filmnya : penuh adegan mmuah-mmuahan love . Yah.. Maka dari itulah, film ini kategorinya : film dewasa. Berbeda dengan seri pendahulunya : film remaja.

Oiya, melihat si Edward yang di adegan awal-awal ini, sungguh mengingatkan gue akan pasangan seleb kita, ya.. Raffi Ahmad dan Yuni Shara. Tatapan Edy (panggilan sayang gue untuk Edward) yang seolah cintaaa mati (atau nafsu abis) mirip saat Rafi menatap Yuni. Aw aw.

Oke, kembali ke film, adegan awal adalah saat seorang pria tampan sedang berjalan di tengah hujan dan digigit (yang adegan penggigitannya ga jelas, entah itu digigit, dibacok atau digebukin pake sapu, yang jelas udah berdarah) oleh si vampire berambut merah (Victoria) yang benci sama keluarga Cullen (karena cowoknya si Victoria ini dimatiin sama Edy cs). Lalu adegan berganti ke Edy dan Bella yang sedang di taman bunga, membicarakan masa depan mereka, lalu mmuah-mmuahan.

Setelah itu gue lupa adegannya kemana lagi hehe. Intinya, si Victoria ini mau balas dendam ke keluarga Cullen dan si Vicky (panggilan akrab gue ke Victoria) membuat suatu tentara yang isinya vampire-vampire muda. Selain konflik si Vicky mau bunuh Bella, ada konflik lain yaitu cinta segitiga Eddy, Bella dan Jacob yang makin njelimet juga konflik tentang kapan Bella mau diubah jadi vampire.

Nah nah nah.. Gue udah ga sabar ingin mencibir aw aw.

Pertama : tentu aja masalah make up, seperti sebelum-sebelumnya, si Bella ini keliatan amat ngantuk, sedangkan para vampire yang harusnya keliatan ngantuk malah ga ada ngantuk-ngantuknya.

Masalah make up lagi, seperti di film Munyun, make-upnya si Dakota Fanning yang berperan sebagai Jane (vampire dari keluarga Volturi, keluarga yang isinya vampire manteb gitu lah, bangsawan vampire, yaah anggota DPRnya mereka *ngarang abis*) ini lebaaaaay banget, yah 11 12 sama Avril Lavigne mau ngerock dengan segala eye liner, eye shadow inilah itulah.

Lanjuut..

Menurut gue ini sih yang paling penting : cerita di film ini gajelas. Menurut gue kalo yang belum baca bukunya, atau setidaknya nonton Munyun, pasti bingung abis. Temen gue yang gapernah baca bukunya sampai bolak-balik nanya : itu siapa? Ini kenapa? Apaan sih? Dsb. Seperti pas ada adegan seorang vampire disiksa Jane (yang punya kemampuan menyiksa lewat pikiran), gue iseng nanya ke temen gue perihal itu,
gue nanya : lo ngerti ga itu sakit kenapa?
Dia : hmm.. Gue kira itu sakit karena mau berubah jadi apa gitu. Eh, emang kenapa sih?

Terus ya, adegan ciuman disini, hmmm.. Mungkin ada 10x (atau lebih?), tadinya gue mau ngitung adegannya, tapi ternyata makan kentang goreng dengan extra cheese lebih mengasikan daripada ngitung kayak gituan. pokoknya adegan bunuh-membunuh dengan darah dsb malah ga disorot disini, tapi pas ada adegan cium-cium malah di close up hahaha, kayaknya ga pantes aja deh jadi film vampire.


Kembali ke adegan berantem (yang harusnya ditonjolkan disini, karena ada perang antara keluarga Cullen + werewolf vs vampire mudanya si Vicky) disini adegan berantemnya amat sangat ga seru. Oiya, dan menurut gue film ini terlalu gelap, memang si kota Fork ini ceritanya selalu mendung, tapi kok ya gue ngeliatnya jadi yaah suram gitu.

Terus, yang tidak kalah penting adalah, si Edy ini udah terlalu tua untuk jadi anak 17 tahun. Dia kelihatannya malah kayak oom-oom cinta mati sama adeknya xpasti



Tapi, secara keseluruhan, film ini sedikit lebih baik dari Nyumun (yang berarti juga sedikit lebih sedikit lebih baik dari Twelek, sebuah film konyol dengan adegan kuntilanak naik pohon).

Oh, dan tidak lupa, film ini sungguh membawa pesan positif kepada kita: jangan 'berbuat' sebelum nikah. Hahaha.. Karena si Edy ini nolak-nolak (tapi mukanya mau) saat si Bella nafsu mau berbuat.

-sekian & ta

Senin, 05 Juli 2010

Sore di Pantai Kwaru

Sudah dari berbulan-bulan yang lalu gue merencanakan pergi ke sebuah pantai yang belum lama dipromosiin/dibuka yaitu Pantai Kwaru di Yogyakarta dan akhirnya tanggal 26 Juni yang lalu, setibanya gue di Yogyakarta, gue langsung menuju ke Pantai Kwaru.

Pantai Kwaru memang ga seterkenal Pantai Parangtritis yang setiap liburan dijejelin orang. Dan Pantai Kwaru ini menurut ucapan saudara-saudara gue yang orang Jogja mirip Pantai Depok (tempat dimana kita bisa wisata kuliner, membeli seafood mentah disana, terus dikasih ke mbak/mas tukang masak, duduk lesehan di warung, main pasir sampai bosen dan sampai rambut kaku penuh pasir, nunggu lama banget sampai jenggotan, ngedumel gara-gara lapar dan baru deh itu seafood mateng..) Tapi memang Pantai Kwaru ini mempunyai ciri yang khas pantai daerah selatan : ombak besar dan pasir hitam.

Tapi berbeda dengan Pantai Depok dan pantai-pantai lainnya disana, Pantai Kwaru ini mempunyai deretan pohon cemara udang yang dapat melindungi kita dari terik matahari dan terpaan pasir melayang karena angin kencang ombak pantai (apaan sih gue).

Cemara dan Sampah

Sesampainya gue disana, jam sudah menunjukan pukul setengah 6 sore (atau malam ya), dan gue tidak kena terik sinar matahari yang berarti duduk-duduk di bawah cemara sudah tidak berguna. Dan udah gaada yang jualan seafood segar, kapal-kapal nelayan udah disimpan. Disana sudah gelap walaupun masih banyak pengunjung yang tentunya suka gelap-gelapan hihihi. Dan oh tidak, pantai ini ga menghadap matahari terbenam, lengkap sudah.

Namun, oh, ada banyak benda berwarna terang di pasir yang hitam, bukan.. ini bukan hewan laut atau bangkai bintang laut star. Benda-benda itu adalah S A M P A H, ya bungkus-bungkus segalamacem hasil karya wisatawan disitu yang tidak bertanggung jawab tepuktangan. Sungguh sangat disayangkan, pantai semacam ini malah lebih mirip Pasar Induk Cibitung hahaha. Mungkin karena masuk ke pantai ini gratis ya (cuma bayar uang parkir), jadi ga ada dana buat bersihin hehe.

Sampah plastik yang konon bisa bertahan 500 tahun, hii.. bayangin aja ratusan tahun lagi pasti pasir sama sampah banyakan sampah

Gue menyusuri pantai itu sama kakak gue, ambil beberapa foto yang gelep karena memang matahari udah mau sembunyi, gue juga sempet jadi paparazi yang ngefoto beberapa pasangan disana (berasa ngikutin Brangelina). Dan, kesan gue selain Pantai Kwaru ini kotor adalah : pantainya terlalu menjorok, hmm.. gimana ya, jadi terlalu turun gitu, miring gitu (ah ribet).

Narsis #1

Yayang-yayangan..

Kayaknya gue berbakat jadi fotografer pra-wed hahaha..

Setelah tidak sampai 1 jam berada di Pantai Kwaru, gue pulang ke rumah nenek. Dan sesampainya di rumah, saudara gue pada nanya : "Gimana? Pantainya kotor banget kan?" Hahaha.

-sekian & ta